Slider

Learning to Love Myself Part 2

Friday, 14 July 2017

Untuk melanjutkan post yang sebelumnya... Tenang saja yang ini lebih uplifting kok!

Btw aku pisah soalnya takut kepanjangan banget. Semoga kalian masih setia membaca ya :'D



How I started.

Ada jeda 1 minggu dari aku daftar gym to my first session. Dalam 1 minggu itu aku ganti asupan makananku dengan yang lebih sehat. Hari-hari pertama ini biasanya justru paling mudah, karena paling semangat dan sangat termotivasi. Aku masak sendiri di rumah, makanan simple yang memang aku suka. Mottoku adalah aku ingin happy, enjoy dan ikhlas. Aku nggak mau tersiksa harus minum-minum shake yang bikin eneg, atau maksa makan sayur yang aku memang nggak suka. Salah satu perubahan yang menurutku paling simple untuk memulai adalah: Don't drink your calories. Semua minuman yang ada rasanya, ada kalorinya--kecuali kopi hitam tanpa gula, kalau nggak salah kalorinya hampir 0. Jadi aku hanya minum air putih nggak dingin, saying goodbye to lychee iced tea dan flat white, at least for now. 1 minggu ini kickstart yang bagus, aku langsung merasa lebih energized, jadi beneran makan makanan yang bernutrisi, bukan cuma empty calories--enak di mulut aja, di badan nggak ada manfaatnya.

Lalu datanglah hari pertama gym. Meskipun masih ada rasa insecure, tapi aku datang ke gym dengan tekad bulat, pakai baju baru! Haha. Saat yang bersamaan juga aku mulai mikir "Hmmm yaudahlah ada orang di sini kalo diliatin terus kenapa? Gue gendut emang kok, kesini karena ingin lebih sehat!" wow aku nggak nyangka loh bisa mikir gini mengingat kondisi aku sebelumnya. I have come sooo far even before I started! Terus aku ditimbang, udah nggak kaget, padahal 1,5 tahun nggak nyentuh timbangan di rumah. Di situ aku betul-betul udah siapin diri sama angka yang ada ditimbangan. (Eh pas daftar juga udah ditimbang deng) Aku langsung bilang "Iya gue emang nggak sehat banget" I know my issues, I admit it, I accept it.

How's working out for me?

Hari pertama aku di gym nggak mengintimidasi sama sekali. It was a good introduction. Gerakan-gerakan simple, dan aku nggak 'sore' sama sekali. Besokannya aku minta latihan lagi, eh habis itu 3 hari sakit semua se badan-badan. Hahaha. Tapi dari awal ini aku merasa kalau... wow I think I enjoy it. Ada orang-orang yang nggak suka rasa 'sore' yang biasanya dirasakan 1 hari setelah olahraga, tapi aku salah satu yang menikmatinya. That's how I know it's working and my muscle's healing itself and after that it gets stronger. Pokoknya aku latihan di gym 3-4 kali seminggu, kalau aku cuma latihan 3 kali dalam seminggu, aku tambah dengan latihan di apartemen, bisa 1-2 kali. Aku sama sekaliiii nggak pernah olahraga dengan intensitas kaya begini sebelumnya, fitness level aku tuh tiarap deh. Tapi sekarang ini ternyata aku menikmati. 3 hari nggak olahraga nggak betah. Setiap aku bisa mencapai milestone baru, atau gerakan yang tadinya aku nggak kuat terus jadi gampang, tuh little achievements that keep me going. I enjoy it. Setelah beberapa kali latihan, aku mulai sadar kalau "Oh, ini pegelnya pas lagi dikerjain aja kok, pas udah selesai enak! Sakitnya cuma sementara!" aku amazed my mind can think like that. Working out is not only good for the body, but for the mind as well. Semua yang rajin olahraga pasti setuju sama aku. It's the same for everyone. Dulu, aku tuh takut mau olahraga ya karena males menghadapi pegel-pegel karena lactic acid nya itu (pegel yang dirasakan saat olahraga). Tapi sekarang it's a part of the process. Aku tau olahraga itu emang pegel, I accept it! Aku belum sampai fase bosan, semoga nanti-nanti aja bosan nya, hehe.

Aku sama sekali belum kuat, dibanding kakakku yang merupakan my fitspiration jauuuh banget. Aku masih belum bisa push up ya mungkin karena badanku masih keberatan. Lututku bermasalah, jadi gerakanku terbatas, sebisa mungkin yang low impact supaya meminimalisir cedera. But it's a journey, nggak ada yang instan, sabar, ikhlas, konsisten, happy, enjoy! Aku juga pengen nanti ikut olahraga yang susah-susah kalau yang sekarang sudah nggak menantang. Tapi untuk sekarang, baby steps aja dulu yaa...

Oh iya, kalau lagi di apartemen aku suka ikutin olahraga di YouTube. Setelah olahraga, aku jadi tau kalau aku nggak begitu suka treadmill karena bosan, makanya senang banget ketemu olahraga cardio ini -> Low Impact 30 minute Cardio Workout Beginner. Aku paham kalau sama sekali nggak pernah olahraga, ini sudah challenging banget! Tapi setelah beberapa kali mengulang video yang ini, bisa pindah coba lagi yang lain, misalnya ini -> Beginner/Intermediate Workout, Cardio Starter 2. Senang deh menemukan Body Project. Kalau kamu ingin coba Zumba di rumah, tinggal search di YouTube ada banyak pilihan, kalau bingung urutan dari warm up sampai cool down, liat di playlist channel nya! Biasanya ada yang sudah bikin 1 hour workout. Kalau mau weight training, bisa liat channel nya Hasfit. Salah satu video nya yang ini -> 17 Min Strength Workout for Beginners.

Aku pun olahraga gini nggak mau terpatok hanya dengan angka di timbangan. Karena ingin menurunkan berat badan itu nggak seperti downward slope, akan ada naik turun, fluktuatif. Ada masanya udah olahraga terus dan jaga makan tapi berat badan stagnan. Daripada stress karena angka-angka itu, jalani prosesnya, just take care of your body, enjoy the transformation. Menjalani ini membuat aku think beyond that. Aku merasakan banget psychologically I'm more content, genuinely happier. Gimanapun angka di timbangan minggu ini, yang melakukan gerakan-gerakan yang awalnya kaya nggak mungkin itu badan aku! And it's an achievement already. It's about becoming stronger mentally, not just physically.

Yang awalnya aku pikir orang-orang di gym tuh intimidating, ternyata nggak sama sekali. Everyone's minding their own business. Kadang ada sih yang suka ngeliatin, tapi yaudah liatin balik aja sampai dia uncomfortable kalau aku rasa dia ngeganggu haha. Aku juga jadi tau, ada banyak yang sedang dalam journey mereka, nggak hanya aku doang! Jadi nggak merasa sendirian. Di locker room yang tadinya aku minder, terus udah cuek aja sekarang sih. Aku pikir cewek-cewek itu akan liat-liatin cewek-cewek lain, ternyata ya nggak sama sekali. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku tau ada di antara kalian yang punya kekhawatiran sama kayak aku, tapi setelah aku mengalami ini sendiri kenyataannya nggak kaya gitu kok :)

How do I eat out?

Bisa disesuaikan! Pokoknya aku nggak minum apapun kecuali air putih nggak dingin, tetep! Paling sering makan sushi, atau shabu-shabu, makan steak nggak pakai kentang. Makan di mana aja I still eat kok, tinggal dipilih aja pesannya apa. Nggak mau menyiksa diri! Cuma kalau sudah lewat tempat jajanan kesukaan menahan diri aja sih. No Starbucks, Shihlin, Koi dan semacamnya hehe :) Kalau Panca makan makanan yang aku gak bisa makan, aku minta satu suap aja biar nggak craving, jadi dapet kan tuh enak di mulutnya, cukup deh udah diicipin.


Do I recommend my gym?

Going to a mainstream, mall gym like I do, I think is a great way to start, especially if you don't know anything about working out yet. My trainer doesn't have a great knowledge of fitness unfortunately, but I do understand his and other personal trainers in this type of gym's situation, I can sympathize! Saran ku kalau memang kamu mau daftar jadi member gym dan pakai personal trainer, sambil latihan kamu juga cari tahu form yang benar dari gerakan-gerakan kamu kayak gimana, karena bisa jadi trainer kamu nggak ajarin dan dia juga nggak yakin kalau kamu tanya. Ideally memang nggak kaya gitu, but just my suggestion! Untuk aku, perkenalan aku dengan olahraga di gym ini (olahraga yg full body workout, bukan hanya jogging jogging lucu aja) sama sekali nggak intimidating, rasanya achievable jadi nggak takut duluan. Kalau aku mulai olahraga di tempat kakakku, WOW pasti aku nggak akan mau balik lagi soalnya nggak sesuai dengan fitness levelku! Hahaha. 


Perjalananku masih panjang untuk mencapai tujuanku. Tapi aku nggak ingin buru-buru. Ini bukan perlombaan. Bukan diet, it's a lifestyle. Aku memang bukan cari instant fix dan berpikir saat aku udah mencapai berat badan tujuanku, aku bisa makan enak lagi segalanya kaya dulu! Tapi aku ingin hidup lebih sehat. Bukan berarti aku nggak akan pernah indulge myself forever, tapi for now karena masih nurunin berat badan yaudah Abura Soba nya nanti aja yaaaa. Kalau nanti, everything in moderation pokoknya, happy, nggak menyiksa diri! Aku baru menjalani ini selama 2 bulan. Dengan pace aku sekarang, mungkin 4 bulan lagi aku bisa mencapai tujuanku, tapi kalau ternyata memakan waktu lebih lama, ya nggak papa :) Jangan sampai aku malah jadi stress dan merasa kalau ini nggak ada gunanya hanya karena nggak mencapai target pada waktu sesingkat-singkatnya, nanti malah kembali ke kebiasaan nggak sehat.

Most importantly, now I have accepted my body. I own it. I maybe... like it a little bit, still trying to love it. I thank my body for taking me where I have been and where I'm heading. It's the only one I have so I'm going to try to take care of it!

UPDATED: Berdasarkan pengalamanku ini, memang nggak ada gunanya orang lain mau ngatain aku, ngomong apapun ke aku, sama sekali nggak membantu. Kalau diri aku sendiri belum punya niat, nggak akan bisa ngejalanin ini. Itu aja sih!

Semoga aku punya kekuatan fisik dan mental untuk nggak slip back to my old self! Untuk yang sedang dalam journey ini juga, let's do it together!

Hmmm... I think that's all for now!
Kalau ada lagi yang ingin ditanyakan bisa leave a comment atau message aku aja ya di Instagram :)

Learning to Love Myself Part 1

Thursday, 13 July 2017

Halo semuanya. I'm gonna warn you now, this post is gonna be long, so be prepared. Also, tulisanku ini mungkin nggak rapi dan all over the place, mohon maaf kalau tidak sesuai EYD :) Jadi hari ini aku share di Instagram Stories ku kalau hari ini aku found out I lost 12 kgs. Diikuti dengan seri curhatan aku mengenai omongan orang. Oke isinya akan aku share di sini:

"When are indons gonna realize that telling others 'lo gendut banget sih' dengan nada condescending literally does nothing to help them and often just worsen the situation.

Tujuannya apa sih biar apa? Lo pengen dia kurus biar cantik? Teaching someone to hate themselves isn't gonna make them follow what you what, or follow the choices you want them to make.

Often the only thing it does is make them feel 'less-than', and in the end hate themselves. Asli, sama sekali ga ngebantu. Cuma nyakitin doang. Lo secara sadar nyakitin orang, gitu loh. Apa emang itu tujuannya?

Lo ngomong cuma 5 detik terus lo lupa. Efeknya untuk yang denger gak cuma 5 detik say.

'Ya mestinya dibilangin gitu jadi sadar dong terus berubah! Lemah deh' You can never know other people's mental state.

I hated myself for the looongest time... Bahkan saat gue post-post selfie di Instagram yg mungkin mencerminkan confidence tapi asli, mentally gue unstable banget. Ketawa-ketawa sama temen-temen ya bisa. Tapi rasanya kaya sendirian banget.

One of the best decisions I've ever made adalah: move out of my Mom's house. Gue selamanya bersyukur gue punya privilege bisa milih untuk gak tinggal sama orangtua.

Remember YOU have to take care of YOURSELF FIRST!

Gue juga belajar jaga mulut kadang masih suka ada salahnya... Masih suka ngomong 'Ya ampun lo kurus banget sih makan yang banyak!' Padahal mungkin sebenernya yang denger juga struggling to gain weight cuma gue gak tau...

Everyone's journey is different. Tapi emang melakukan sesuatu itu mesti dari diri sendiri. Jadi lo mau ngatain orang kaya apa ga akan bantu dia. Jadi mending ga usah ngatain orang karena lo juga buang-buang energi."




Aku mau nambahin, kadang ada orang yang bilang "Kita kan ingetin kamu karena kita sayang", setiap orang beda-beda, mungkin ngomong gini bisa ingin membuat A berubah, tapi malah membuat B makin down dan nggak mengubah apa-apa juga di pilihan-pilihan dia. Sebagai orang yang katanya sayang kita juga harus peka dan pelajari efeknya apa ke yang dengar omongan apa. Kalau gak mau follow up, nggak mau care, nggak mau peka, ya jadinya cuma condescending aja sih ya, nggak sayang itu sih, makanya mending nggak usah ngomong xD Banyak juga yang memang bahagia dengan apapun bentuk tubuhnya dan nggak mau berubah, ya udah kan pilihan dia, kenapa kita mesti pusing?

Setelah aku post ini, banyak banget yang message cerita ini itu, dari sekedar setuju sampai ikut berkeluh kesah. Banyak juga yang tanya gimana caranya aku turun berat badan, dan semacamnya.  Terima kasih banget untuk semua yang udah reach out ke aku. Jadi punya banyak teman baru. Mengingatkan aku kalau aku gak sendirian, and also that we have each other! Karena itu aku ingin tulis ini sekarang. Mumpung di kepalaku masih fresh, unfiltered, tapi maaf ya kalau berantakan tulisannya.

Aku juga mau bilang aku nulis ini dalam posisi perjalananku masih sangat panjang dan belum selesai. I barely started. Siapa tau ada di antara kalian yang lagi mengalami hal yang sama jadi kita bisa sama-sama. Asli, sebenarnya takut juga sih mau nulis ini sekarang. Tapi nggak apa-apa, siapa tau cathartic juga buat aku.

A little bit about my struggle.

Jadi for as long as I can remember aku emang struggling sama berat badan, basically in how I look. Aku selalu dibilangin aku gendut. Bahkan saat ukuran celanaku XS juga tetep aja dibilang gendut. Selalu diajarkan dan ditekankan ke aku kalau penampilan itu penting, sampai kesannya penampilan itu yang utama. Pokoknya kalau nggak cantik sesuai dengan standard umum itu adalah suatu kegagalan. Kalau udah 'cantik' tuh cukup, apa aja bisa dicapai. Kalau kenal aku pas TK-SMP terus kuliah, lah kan aku orangnya sering tampil di depan, kok bisa bilang gak pede? Oh aku pede banget dengan kemampuanku, agak rumit juga sih jelasinnya, tapi aku gak suka dengan diriku sendiri.

Sejak saat aku mulai overweight, wah udah sering disuruh ini itu. Dibeliin program-program diet semacam H****life dan Nusk**. Tapi karena disuruh dan aku gak niat, ujungnya aku balik lagi ke kebiasaan sebelumnya. Lagipula, program-program seperti ini untuk orang seperti aku rasanya harmful sih. (Aku = orang yang mentally wasn't in the right place) Apalagi waktu itu posisinya aku borderline dipaksa, malah akhirnya rasanya they did more harm than good.

Why did I say that? Soalnya program-program ini betul-betul ditekankan pada angka di timbangan. Bukan perubahan gaya hidup yang sustainable. Memang dirancang untuk "Kamu gak perlu olahraga, makan siang terserah boleh apa aja, asal minum tablet ini terus makan pagi diganti shake ini pasti gak laper!". Bukan perubahan mindset dan perubahan psikologis. Superfisial dan hanya untuk di luar aja.

Sedangkan ajaran-ajaran ini (aku tuh gendut, gendut itu jelek, value aku dinilai mostly dari penampilanku) yang ternyata efeknya deeper than I had hoped, membutuhkan something deeper than just weigh-ing myself every week hoping it shows a smaller number each time. Saat itu aku nggak sayang dengan diriku, I didn't accept my body, terus disuruh ikutin program instan dengan tujuan bikin aku kurus dan jadi lebih desirable, duh selain ujungnya nggak berhasil dan buang-buang uang, tapi mentally aku sama sekali nggak membaik juga. 

Selain itu aku juga pernah bilang ke diri sendiri "Oke pengen olahraga", terus aku ikutin Blogilates hampir 2 bulan, terus nggak konsisten dan berhenti. Saat itu juga mindsetku "Karena gue udah olahraga, karena itu gak papa gue makan sesuka hati gue!" terus malah jadi makan lebih banyak. Rasanya yang pernah punya pemikiran ini nggak hanya aku. 

Pokoknya ini berlanjut terus sampai aku lulus kuliah, terus mau nikah. Memang gaya hidup aku nggak sehat, mentally tambah parah banget kondisiku. When someone was in the same mental state as I was, kayanya memang sulit untuk turn their life around. It's difficult to make healthy choices. Karena mengubah lifestyle sih ngomongnya gampang, dijalaninnya yang susah. Saat aku mau nikah itu, suka dibilangin kalau "Kamu kalau nggak kurus cantik nanti Yudha bisa selingkuh" ya ampun, belum apa-apa kalau suami selingkuh udah aku yang salah. Banyak hal lain lagi yang menumpuk. Dan meskipun nggak ada apa-apa, dikondisi aku saat itu nggak ada trigger pun juga udah terpuruk banget rasanya, ditambah suka dibilangin kaya gitu. Saat itu rasanya hidup nggak ada artinya banget, sering banget mikir "Is it even worth it to live? Hidup susah!" Asli nih kesannya dramatis banget, silahkan aja kalau nggak percaya. But I'm here now though, right? I went through it!! And I'm stronger for it :)

Sampai 8 bulan pernikahan aku tinggal di rumah Mamaku, karena apartemen tempat tinggal aku sendiri masih dibangun. Saat gedung apartemen sudah bisa dipakai, aku sama sekali nggak nunda untuk tinggal sendiri. Gedung ini masih kosong waktu aku masuk, aku salah satu tenant pertama yang pindahan. Saat itu aku merasa kalau "I can't take this anymore, I need to change my life!" so I did. Moving out of my Mom's house was the best thing I ever did for my mental health. Sekitar satu tahun lebih setelah tinggal berdua suami, aku mulai sadar kalau "Wow, I actually feel better now" dan meskipun aku tau perjalananku masih panjang banget di titik itu, tapi aku tau where I'm heading and I know I'm getting better. Jadi, memang only after my mental health got better then I started to see that I needed to change other things in my life as well... I was too depressed, in denial, or whatever you want to call it for a long time. My mental health NEEDED to be better first before I make healthier choices in other parts of my life.

Dengan ini aku mau bilang, kalau aku nggak nyalahin siapa-siapa. Memang aku nggak take care of myself. Aku yang nggak sayang dengan diriku, dan mau gimanapun hanya aku yang bisa mengubahnya kalau aku memang ingin. Aku hanya ingin cerita perjalananku aja! Also want to point out that while I kept continuing with being unhealthy, I was also fighting with the voices inside my head. Jadi dobel deh.

Physically, setelah nikah aduh makanku bener-bener nggak terkontrol, dalam 2 tahun menikah kayanya aku naik sekitar 20kg. Aku makan segala makanan yang nggak bikin aku energized, malah badan jadi berat, lemes, males aja bawaannya. Enak di mulut, di badan nggak enak. Sampai akhirnya aku sampai titik di mana.....

What changed, how I started.

Sebelum aku mulai this journey, aku duduk aja rasanya tuh nggak enak banget. Perutku besar dan 'sesek' aja badan rasanya. Baru sampai di kepalaku kalau "Duh aku nih udah nggak sehat banget!", dan salah satu yang bikin aku ingin berubah juga karena suamiku dan aku mulai actively trying to have a baby, aku nggak kebayang dengan kondisi badan aku saat itu kalau aku hamil sedangkan aku nggak sehat banget, terus nanti hamil tambah besar, gimana bisa aku kasih yang terbaik untuk janin? Sampai saat ini aku belum hamil, semoga hamil saat yang tepat, saat aku sudah lebih sehat dan fit.

Di titik ini, aku kalau beli baju aku beli aja apapun yang muat, karena yang muat gak banyak, jadi aku nggak punya privilege pilih-pilih baju yang lucu. Pokoknya kalau muat, biasanya oversized, nutupin pantat aku beli. Makanya ada fase di mana baju aku ya cuma kemeja tangan panjang yang cutting-nya mirip-mirip, karena ya cuma itu yang cukup dan masih decent. Aku bertahun-tahun tuh nggak pernah pakai celana jeans. Selama berapa tahun celana aku cuma 2, modelnya sama cuma beda warna. Paling takut beli celana soalnya sudah tau pasti nggak ada yang muat. 

Suatu hari aku lagi duduk dengan tidak nyaman lalu something clicked, "Ok gue mau daftar gym dan pakai Personal Trainer". Pokoknya tiba-tiba tekad bulat itu datang dengan sendirinya. Seakan-akan kayak "Ini waktunya!" Padahal tadinya kalau di mall amat sangat menghindari ngelewatin gym, karena insecure banget dan pokoknya gym tuh mengintimidasi. I admit to myself, "Ok gue nggak sehat banget and I need to change, I want to FEEL better, gue gendut" and I was okay with that. I knew I was stronger mentally than I ever was. I accepted myself. Terus aku telpon tuh gym, dan aku datang tanya-tanya, habis itu langsung daftar dan beli paket PT! Padahal bisa aja aku cuma daftar gym nggak usah PT dan aku bisa ikut kelas kelas aja, tapi aku tau dengan kondisi aku saat itu, aku nggak bisa deh masuk ke gym tanpa tahu apa-apa, nggak pernah olahraga, pengetahuan 0, terus ikut kelas aku selalu mikir kalau "Orang-orang ini pasti lagi mikir deh cewe ini gendut banget. Oh anak baru ya" pokoknya insecure dan intimidated, aku selalu takut orang lain mikir yang buruk-buruk tentang aku. Bahkan pas ditanya "Kira-kira mau latihan jam berapa Mbak?" aku jawabnya "Di sini paling sepi jam berapa ya?" saking aku nggak mau di lihat orang dan aku juga pilih pakai PT supaya ada yang guide, one on one, dan aku gak celingak celinguk sendirian. Lumayan drama ke-insecure-an aku, tapi begitulah faktanya :'D

What's next? Beli baju olahraga yang proper. Aku ingin maksimal karena memang sudah niat, supaya aku nyaman, mengurangi resiko cedera, dan gerakannya juga bisa maksimal. Aku cari cari baju olahraga, dan sadar kalau merek sportswear mainstream di sini tuh nggak inklusif ya. Padahal... yang overweight kayak aku yang ingin jadi lebih sehat sebenarnya butuh banget sportswear yang mendukung, apalagi yang dadanya besar, gak mungkin deh nggak pakai sports bra. Lumayan aneh sebenarnya. Malah bisa membuat orang yang tadinya sudah bertekad jadi mengurungkan niat, karena merasa there's no place for them, baju nya aja nggak ada. Bersyukur ternyata masih menemukan yang cukup di aku. Pertama kali banget aku olahraga aku pakai sports bra nya Asics, New Balance, Reebok. Legging aku New Balance dan Reebok. Top nya aku pakai Nike, Adidas yang sebenarnya untuk MEN dan Reebok. Haha! Aku sampai beli kaos dari section MEN (yang sebenarnya nonsense, baju olahraga aja dikasih gender) soalnya yang Women tuh biasanya mengikuti lekuk tubuh, terus lengannya kalau angkat tangan underarm nya kemana-mana. Berhubung nggak percaya diri, jadi pakai yang cutting nya lurus aja dan sleeve nya kaya t-shirt normal dari section Men. Sayangnya, sports bra dan legging aku juga itu sudah ukuran terbesar yang brand masing-masing punya, jadi kalau ukuran kamu di atas aku, jujur aku nggak tau bisa cari sportswear di mana :(

Sekian cerita aku kali ini. Akan ada lanjutannya kok setelah ini!

Did My Cousin's Engagement Makeup

Tuesday, 11 July 2017

It was my first time doing a full on makeup on a family member. I made sure that I have everything I needed in my kit because doing something in front of the whole big family always add a lot of pressure. Thankfully everything went well and I guess my family loved it. My Mom said I did a great job which she NEVER says so I was a little taken aback by it. Was it perfect? No. But I'm glad I accepted the request and helped a family member.






Taken on my iPhone 7+. I think the colour is better than the ones taken with a camera xD


Whenever I do makeup on others, I always try to change it up. I never do the exact same look on two people. I just think the beauty of makeup is to experiment and I do whatever I think is good on someone on the day. I'm never exactly sure of what I'm going to do until the client has sat on the chair and then I open the palettes and I pick up whatever colour sparks my interest. The makeup I do on others is entirely different than what I usually apply on myself. I never wear eyeliner and mostly just use 1 eyeshadow. So I come up with new looks and just hope for the best!

Feel free to contact me if you need your makeup done. My fee is actually cheap (at least I think so) and I use products that I love.. I'll try to always do my best for you! :)

Much love,
x
Copyright © Adani Nurimanina
Design by Fearne