Menikah

Thursday, 8 September 2016

Selain cerita tentang makeup, salah satu hal yang aku senang untuk obrolin adalah relationship. Sebelum menikah, aku sama Aydh pacaran kurang lebih 5 tahun, dan sebelum-sebelumnya aku sudah beberapa kali pacaran. Terus kenapa akhirnya aku memilih menikah sama Aydh? Jawabannya adalah karena aku nggak bisa nemuin alasan untuk nggak menikah sama Aydh. Yang mestinya ditanya itu Aydh, kenapa menikah sama aku? Padahal aku pacar pertama dia, dan dia bisa aja bertualang dulu tapi nggak tuh. :p

A photo posted by Adani - Not So Secret Journal (@adanink) on

Pernikahan kita nggak diburu-buru, dan gak ditunda. Kita berdua merasa waktunya tepat, merasa mampu menikah. Langkah yang kita ambil saat itu terasa natural, karena untukku hanya itu jalan untuk kita berdua, sama sekali nggak pernah terpikirkan "Bagaimana kalau nanti aku ketemu sama yang lebih baik?". 

Meski bisa dibilang di hatiku nggak pernah ada rasa ragu atau berat untuk menikah, bukan berarti kita menggampangkan pernikahan. Aku bukan penganut paham "Cepetan menikah supaya menghindari fitnah" dan sejenisnya, karena memangnya menikah hanya untuk itu saja? Aku selama pacaran pernah ke Bali, Singapore, Malaysia berdua, nggak pernah ngapa-ngapain, karena kita pacaran dan menikah bukan itu tujuannya. Memilih untuk setiap hari setiap hari, tidur dan bangun sama satu orang selama kurang lebih 50 tahun kedepan bukan sesuatu yang enteng, untuk selalu jujur, terbuka, dan segala-galanya sama satu orang, kalau kamu bisa pikir "Duh, memang gak bosen?" aku nggak pernah kepikiran begitu. Menurutku sih karena orangnya tepat. Pokoknya semua alasan untuk nggak menikah nggak berlaku untuk aku sama Aydh.

Tau darimana Aydh orang yang tepat? Karena Aydh adalah semua yang aku butuh, bukan hanya yang aku ingin aja. Dulu waktu pertama kali banget kenal suka mikir, ingin sama yang romantis, bisa main gitar, bisa nyanyi bareng, karena semua mantanku begitu, tapi penting gak sih? Apakah kalau lagi mumet mikirin asuransi, atau hitung-hitung KPR, bisa terselesaikan masalahnya dengan main gitar nyanyi bareng? Aku dulu kagum sekali sama dia karena dia lulusan ITB, dia cerdas, dia jadi delegasi ITB untuk sesuatu di Amsterdam dan London, wah, kualitas yang mendasar yang dicari waktu memutuskan ingin pacaran deh. Tapi Aydh nggak hanya itu aja, dia bertanggung jawab, sangat sabar, sama sekali nggak pernah marah, pekerja keras, dan yang paling penting, tujuan kita sama. Kalau kita ingin memutuskan untuk menjalani seumur hidup dengan seseorang, pastinya kita harus pilih untuk sama orang yang ingin hal yang sama dengan kita. Iya nggak? Kalau nggak nanti ditengah jalan aku mau ke kanan, dia mau ke kiri. Satu lagi yang penting adalah kalau ternyata di tengah jalan ternyata bertemu buntu dan harus berputar lewat jalan yang lebih jauh, kita harus ikhlas untuk berkompromi dan ikhlas untuk tetap jalan sama-sama. Contohnya, kita berdua sama-sama setuju untuk menunda punya anak. Menikah bukan hanya untuk punya anak saja loh, boleh banget loh untuk nggak mau, itu urusan yang menikah, bukan urusan siapa-siapa lagi. Banyak sekali yang harus dipertimbangkan dan disiapkan untuk punya anak. Aku dan Aydh sama-sama ikhlas hidup berdua dulu (justru itu yang kita ingin), jadi kalau orang lain tanya, kita berdua jawabannya kompak, nggak ada salah satu dari kita sindir yang lain :)
Rasanya gimana setelah menikah? Apa yang berubah? Rasanya enak, bahagia sekali, bisa menjalani hidup yang kita ingin dengan orang yang kita sayang. Sama-sama membuat keputusan dan bertanggung jawab untuk kehidupan berdua. Nggak merepotkan orangtua lagi, saat menikah prinsip kita adalah kalau kita mampunya makan tempe sama sambel ya sudah makan tempe sama sambel, yang penting nggak minta-minta sama orang tua, semoga kedepannya rezeki kita selalu lancar supaya mampu untuk selalu mandiri. Menikah adalah keputusan terbesar yang pernah aku buat sejauh ini, dan it's the best decision I've ever made. Aku nggak pernah sekalipun menyesali menikah, dari awal ini keinginanku, dan aku nggak pernah merasa seyakin ini dengan apapun. Yang berubah adalah, kalau lagi pergi dengan teman-teman sampai malam, meskipun Aydh selalu membebaskan dan nggak pernah nuntut, atau melarang apapun rasanya nggak tenang dan ingin pulang kalau Aydh sudah pulang duluan. Rasanya ingin temenin, siapin makanan, meskipun sama sekali nggak pernah diminta. Inginnya selalu mencoba untuk membalas semuanya yang sudah Aydh perjuangkan untuk aku. Apa lagi ya yang berubah? Kalau masalah tinggal berdua, kita berdua sepertinya skip masa adaptasi, karena semuanya terasa natural, sangat mudah, dan nggak merasakan masa transisi. Mungkin karena kita sudah kenal lama, dan nggak ada yang ditutup-tutupi, ditambah hubungan kita memang lempeng, jadi nggak ada tension sama sekali. Duh, indah sekali deh rasanya 1,5 tahun terakhir ini. Haha.

Waktu pengajian sebelum menikah, aku tulis surat untuk Mamaku (biasa, yang minta restu, minta maaf, terima kasih sama orangtua itu loh, nah aku tulis sendiri, kadang ada yang dibikinin EO, tapi aku nggak mau). Salah satu yang aku bilang ke Mama adalah

"Bagi Adani, tumbuh tanpa Papa sangat berat dan sulit. Dari ribuan pertanyaan yang tidak terjawab sampai hari ini yang tidak bisa Adani bagi dengan Papa. Tapi pasti jauh lebih berat bagi Mama, yang sudah memimpikan banyak dengan Papa, namun cerita Mama dan Papa harus berakhir terlalu cepat. Dengan adanya Yudha di sisi Adani, dan semuanya disini yang sudah menikah, pasti paham dengan takut dan beratnya jika suatu hari teman hidup kita harus gak ada."

(Reading back, ingin nangis jadinya) Yang aku tulis ini betul banget, aku rasakan setiap hari dan masih applicable sampai sekarang. Mungkin itu salah satu alasan aku dan Aydh nggak pernah berantem, karena aku sudah paham rasanya ditinggal orang tersayang, aku takut waktuku habis dan diakhiri dengan penyesalan. Setiap mau kesal berlebihan, aku ingat gimana beruntungnya aku bisa punya laki-laki sebaik, se-setia Aydh yang setiap hari menerima aku dengan segala kekurangan aku. Semoga dengan aku berbagi tentang ini kalian juga semakin mensyukuri memiliki waktu sama pasangan kalian. Sepertinya aku akan upload tulisan aku waktu itu, karena itu salah satu surat paling tulus yang pernah aku tulis, siapa tau jadi inspirasi kalian yang mau menikah juga.



Intinya, nggak ada satu hari yang aku lewati merasa menyesal, sedih, atau tidak bebas lagi karena aku menikah. Aku selalu bersyukur atas semua yang sudah mampu kita raih selama 1,5 tahun ini. Aydh yang kerja keras untuk bangun mimpi kita berdua, yang satu persatu terwujud. Orang lain bilang kita jalan-jalan terus, enak ya, wah padahal kita jalan-jalan kurang dari 20 hari dalam 1 tahun, 340 hari lebih kita habiskan di rumah, jadi jalan-jalan itu hanya sebagian kecil dari hidup aku dan Aydh. :)

Hehe segitu dulu ya dari aku. Kalau ada yang mau kamu tanyain tentang kita boleh banget loh tanya! Kirim message ke Instagram aku di @adanink, pasti akan aku balas.

Much love,
x



14 comments

  1. saya suka dengan prinsip kamu dan suami kamu, Adani! Yang jalani hubungan itu kamu berdua, dan kamu berdua yang kontrol, dan kamu berdua yang menjalani setiap manis dan pahitnya. dulu saya juga selalu bilang mau punya pasangan yang ini lah itu lah (angan angan princess banget), tapi ternyata dipertemukan pria yang sabar, setia, cerdas, dan open-minded itu jauh lebih penting daripada cowok yang 'sempurna buat princess'.

    Salut buat kamu dan suami kamu, semoga selalu bahagia di kehidupan sekarang dan nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Raissa makasih yah udah baca. Hihi bener banget tuh, harus bisa bedakan yg kita butuh atau cuma pengen aja tapi bukan kebutuhan mendasar :) Hehe aamiiin! Kamu juga yaa bahagia selalu

      Delete
  2. Aku nangis baca potongan suratnya kak T-T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iyaa aku juga tadi baca nangis lagi T_T Pas pengajian bacain surat full juga nangis terus gak berhenti hahaha.

      Delete
  3. Adaniiii terharu bacanya :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo ka Evaaa, sukses ya kak di Leeds ;)

      Delete
  4. kok aku haru banget yah huuhuhu

    ReplyDelete
  5. Adani, ternyata kita cuma beda usia 1 tahun huhu.. Aku salut lho sama keputusanmu untuk menikah cepat dan itu murni karena kesiapan kaliah. Semoga selalu dilimpahin cinta dan kasih ya sama aydh! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Erny, iyaa aku masih muda banget kok. Aamiin makasih yaa doanya berbalik ke kamu juga :)

      Delete
  6. Kaget, pas ngeliat umur kamu yang masih begitu muda, sudah memiliki prinsip yang begitu dewasa, aku belajar dan masih sangat jauh dari semua itu.. Semoga aku bisa menapaki semua dengan indah seperti dirimu, juga dirimu kedepannya hihihi :P

    ReplyDelete
  7. Hehe ngga ko Tiara biasa ajaaa. Aamiin..

    ReplyDelete

Copyright © Adani Nurimanina
Design by Fearne