Learning to Love Myself Part 1

Thursday, 13 July 2017

Halo semuanya. I'm gonna warn you now, this post is gonna be long, so be prepared. Also, tulisanku ini mungkin nggak rapi dan all over the place, mohon maaf kalau tidak sesuai EYD :) Jadi hari ini aku share di Instagram Stories ku kalau hari ini aku found out I lost 12 kgs. Diikuti dengan seri curhatan aku mengenai omongan orang. Oke isinya akan aku share di sini:

"When are indons gonna realize that telling others 'lo gendut banget sih' dengan nada condescending literally does nothing to help them and often just worsen the situation.

Tujuannya apa sih biar apa? Lo pengen dia kurus biar cantik? Teaching someone to hate themselves isn't gonna make them follow what you what, or follow the choices you want them to make.

Often the only thing it does is make them feel 'less-than', and in the end hate themselves. Asli, sama sekali ga ngebantu. Cuma nyakitin doang. Lo secara sadar nyakitin orang, gitu loh. Apa emang itu tujuannya?

Lo ngomong cuma 5 detik terus lo lupa. Efeknya untuk yang denger gak cuma 5 detik say.

'Ya mestinya dibilangin gitu jadi sadar dong terus berubah! Lemah deh' You can never know other people's mental state.

I hated myself for the looongest time... Bahkan saat gue post-post selfie di Instagram yg mungkin mencerminkan confidence tapi asli, mentally gue unstable banget. Ketawa-ketawa sama temen-temen ya bisa. Tapi rasanya kaya sendirian banget.

One of the best decisions I've ever made adalah: move out of my Mom's house. Gue selamanya bersyukur gue punya privilege bisa milih untuk gak tinggal sama orangtua.

Remember YOU have to take care of YOURSELF FIRST!

Gue juga belajar jaga mulut kadang masih suka ada salahnya... Masih suka ngomong 'Ya ampun lo kurus banget sih makan yang banyak!' Padahal mungkin sebenernya yang denger juga struggling to gain weight cuma gue gak tau...

Everyone's journey is different. Tapi emang melakukan sesuatu itu mesti dari diri sendiri. Jadi lo mau ngatain orang kaya apa ga akan bantu dia. Jadi mending ga usah ngatain orang karena lo juga buang-buang energi."




Aku mau nambahin, kadang ada orang yang bilang "Kita kan ingetin kamu karena kita sayang", setiap orang beda-beda, mungkin ngomong gini bisa ingin membuat A berubah, tapi malah membuat B makin down dan nggak mengubah apa-apa juga di pilihan-pilihan dia. Sebagai orang yang katanya sayang kita juga harus peka dan pelajari efeknya apa ke yang dengar omongan apa. Kalau gak mau follow up, nggak mau care, nggak mau peka, ya jadinya cuma condescending aja sih ya, nggak sayang itu sih, makanya mending nggak usah ngomong xD Banyak juga yang memang bahagia dengan apapun bentuk tubuhnya dan nggak mau berubah, ya udah kan pilihan dia, kenapa kita mesti pusing?

Setelah aku post ini, banyak banget yang message cerita ini itu, dari sekedar setuju sampai ikut berkeluh kesah. Banyak juga yang tanya gimana caranya aku turun berat badan, dan semacamnya.  Terima kasih banget untuk semua yang udah reach out ke aku. Jadi punya banyak teman baru. Mengingatkan aku kalau aku gak sendirian, and also that we have each other! Karena itu aku ingin tulis ini sekarang. Mumpung di kepalaku masih fresh, unfiltered, tapi maaf ya kalau berantakan tulisannya.

Aku juga mau bilang aku nulis ini dalam posisi perjalananku masih sangat panjang dan belum selesai. I barely started. Siapa tau ada di antara kalian yang lagi mengalami hal yang sama jadi kita bisa sama-sama. Asli, sebenarnya takut juga sih mau nulis ini sekarang. Tapi nggak apa-apa, siapa tau cathartic juga buat aku.

A little bit about my struggle.

Jadi for as long as I can remember aku emang struggling sama berat badan, basically in how I look. Aku selalu dibilangin aku gendut. Bahkan saat ukuran celanaku XS juga tetep aja dibilang gendut. Selalu diajarkan dan ditekankan ke aku kalau penampilan itu penting, sampai kesannya penampilan itu yang utama. Pokoknya kalau nggak cantik sesuai dengan standard umum itu adalah suatu kegagalan. Kalau udah 'cantik' tuh cukup, apa aja bisa dicapai. Kalau kenal aku pas TK-SMP terus kuliah, lah kan aku orangnya sering tampil di depan, kok bisa bilang gak pede? Oh aku pede banget dengan kemampuanku, agak rumit juga sih jelasinnya, tapi aku gak suka dengan diriku sendiri.

Sejak saat aku mulai overweight, wah udah sering disuruh ini itu. Dibeliin program-program diet semacam H****life dan Nusk**. Tapi karena disuruh dan aku gak niat, ujungnya aku balik lagi ke kebiasaan sebelumnya. Lagipula, program-program seperti ini untuk orang seperti aku rasanya harmful sih. (Aku = orang yang mentally wasn't in the right place) Apalagi waktu itu posisinya aku borderline dipaksa, malah akhirnya rasanya they did more harm than good.

Why did I say that? Soalnya program-program ini betul-betul ditekankan pada angka di timbangan. Bukan perubahan gaya hidup yang sustainable. Memang dirancang untuk "Kamu gak perlu olahraga, makan siang terserah boleh apa aja, asal minum tablet ini terus makan pagi diganti shake ini pasti gak laper!". Bukan perubahan mindset dan perubahan psikologis. Superfisial dan hanya untuk di luar aja.

Sedangkan ajaran-ajaran ini (aku tuh gendut, gendut itu jelek, value aku dinilai mostly dari penampilanku) yang ternyata efeknya deeper than I had hoped, membutuhkan something deeper than just weigh-ing myself every week hoping it shows a smaller number each time. Saat itu aku nggak sayang dengan diriku, I didn't accept my body, terus disuruh ikutin program instan dengan tujuan bikin aku kurus dan jadi lebih desirable, duh selain ujungnya nggak berhasil dan buang-buang uang, tapi mentally aku sama sekali nggak membaik juga. 

Selain itu aku juga pernah bilang ke diri sendiri "Oke pengen olahraga", terus aku ikutin Blogilates hampir 2 bulan, terus nggak konsisten dan berhenti. Saat itu juga mindsetku "Karena gue udah olahraga, karena itu gak papa gue makan sesuka hati gue!" terus malah jadi makan lebih banyak. Rasanya yang pernah punya pemikiran ini nggak hanya aku. 

Pokoknya ini berlanjut terus sampai aku lulus kuliah, terus mau nikah. Memang gaya hidup aku nggak sehat, mentally tambah parah banget kondisiku. When someone was in the same mental state as I was, kayanya memang sulit untuk turn their life around. It's difficult to make healthy choices. Karena mengubah lifestyle sih ngomongnya gampang, dijalaninnya yang susah. Saat aku mau nikah itu, suka dibilangin kalau "Kamu kalau nggak kurus cantik nanti Yudha bisa selingkuh" ya ampun, belum apa-apa kalau suami selingkuh udah aku yang salah. Banyak hal lain lagi yang menumpuk. Dan meskipun nggak ada apa-apa, dikondisi aku saat itu nggak ada trigger pun juga udah terpuruk banget rasanya, ditambah suka dibilangin kaya gitu. Saat itu rasanya hidup nggak ada artinya banget, sering banget mikir "Is it even worth it to live? Hidup susah!" Asli nih kesannya dramatis banget, silahkan aja kalau nggak percaya. But I'm here now though, right? I went through it!! And I'm stronger for it :)

Sampai 8 bulan pernikahan aku tinggal di rumah Mamaku, karena apartemen tempat tinggal aku sendiri masih dibangun. Saat gedung apartemen sudah bisa dipakai, aku sama sekali nggak nunda untuk tinggal sendiri. Gedung ini masih kosong waktu aku masuk, aku salah satu tenant pertama yang pindahan. Saat itu aku merasa kalau "I can't take this anymore, I need to change my life!" so I did. Moving out of my Mom's house was the best thing I ever did for my mental health. Sekitar satu tahun lebih setelah tinggal berdua suami, aku mulai sadar kalau "Wow, I actually feel better now" dan meskipun aku tau perjalananku masih panjang banget di titik itu, tapi aku tau where I'm heading and I know I'm getting better. Jadi, memang only after my mental health got better then I started to see that I needed to change other things in my life as well... I was too depressed, in denial, or whatever you want to call it for a long time. My mental health NEEDED to be better first before I make healthier choices in other parts of my life.

Dengan ini aku mau bilang, kalau aku nggak nyalahin siapa-siapa. Memang aku nggak take care of myself. Aku yang nggak sayang dengan diriku, dan mau gimanapun hanya aku yang bisa mengubahnya kalau aku memang ingin. Aku hanya ingin cerita perjalananku aja! Also want to point out that while I kept continuing with being unhealthy, I was also fighting with the voices inside my head. Jadi dobel deh.

Physically, setelah nikah aduh makanku bener-bener nggak terkontrol, dalam 2 tahun menikah kayanya aku naik sekitar 20kg. Aku makan segala makanan yang nggak bikin aku energized, malah badan jadi berat, lemes, males aja bawaannya. Enak di mulut, di badan nggak enak. Sampai akhirnya aku sampai titik di mana.....

What changed, how I started.

Sebelum aku mulai this journey, aku duduk aja rasanya tuh nggak enak banget. Perutku besar dan 'sesek' aja badan rasanya. Baru sampai di kepalaku kalau "Duh aku nih udah nggak sehat banget!", dan salah satu yang bikin aku ingin berubah juga karena suamiku dan aku mulai actively trying to have a baby, aku nggak kebayang dengan kondisi badan aku saat itu kalau aku hamil sedangkan aku nggak sehat banget, terus nanti hamil tambah besar, gimana bisa aku kasih yang terbaik untuk janin? Sampai saat ini aku belum hamil, semoga hamil saat yang tepat, saat aku sudah lebih sehat dan fit.

Di titik ini, aku kalau beli baju aku beli aja apapun yang muat, karena yang muat gak banyak, jadi aku nggak punya privilege pilih-pilih baju yang lucu. Pokoknya kalau muat, biasanya oversized, nutupin pantat aku beli. Makanya ada fase di mana baju aku ya cuma kemeja tangan panjang yang cutting-nya mirip-mirip, karena ya cuma itu yang cukup dan masih decent. Aku bertahun-tahun tuh nggak pernah pakai celana jeans. Selama berapa tahun celana aku cuma 2, modelnya sama cuma beda warna. Paling takut beli celana soalnya sudah tau pasti nggak ada yang muat. 

Suatu hari aku lagi duduk dengan tidak nyaman lalu something clicked, "Ok gue mau daftar gym dan pakai Personal Trainer". Pokoknya tiba-tiba tekad bulat itu datang dengan sendirinya. Seakan-akan kayak "Ini waktunya!" Padahal tadinya kalau di mall amat sangat menghindari ngelewatin gym, karena insecure banget dan pokoknya gym tuh mengintimidasi. I admit to myself, "Ok gue nggak sehat banget and I need to change, I want to FEEL better, gue gendut" and I was okay with that. I knew I was stronger mentally than I ever was. I accepted myself. Terus aku telpon tuh gym, dan aku datang tanya-tanya, habis itu langsung daftar dan beli paket PT! Padahal bisa aja aku cuma daftar gym nggak usah PT dan aku bisa ikut kelas kelas aja, tapi aku tau dengan kondisi aku saat itu, aku nggak bisa deh masuk ke gym tanpa tahu apa-apa, nggak pernah olahraga, pengetahuan 0, terus ikut kelas aku selalu mikir kalau "Orang-orang ini pasti lagi mikir deh cewe ini gendut banget. Oh anak baru ya" pokoknya insecure dan intimidated, aku selalu takut orang lain mikir yang buruk-buruk tentang aku. Bahkan pas ditanya "Kira-kira mau latihan jam berapa Mbak?" aku jawabnya "Di sini paling sepi jam berapa ya?" saking aku nggak mau di lihat orang dan aku juga pilih pakai PT supaya ada yang guide, one on one, dan aku gak celingak celinguk sendirian. Lumayan drama ke-insecure-an aku, tapi begitulah faktanya :'D

What's next? Beli baju olahraga yang proper. Aku ingin maksimal karena memang sudah niat, supaya aku nyaman, mengurangi resiko cedera, dan gerakannya juga bisa maksimal. Aku cari cari baju olahraga, dan sadar kalau merek sportswear mainstream di sini tuh nggak inklusif ya. Padahal... yang overweight kayak aku yang ingin jadi lebih sehat sebenarnya butuh banget sportswear yang mendukung, apalagi yang dadanya besar, gak mungkin deh nggak pakai sports bra. Lumayan aneh sebenarnya. Malah bisa membuat orang yang tadinya sudah bertekad jadi mengurungkan niat, karena merasa there's no place for them, baju nya aja nggak ada. Bersyukur ternyata masih menemukan yang cukup di aku. Pertama kali banget aku olahraga aku pakai sports bra nya Asics, New Balance, Reebok. Legging aku New Balance dan Reebok. Top nya aku pakai Nike, Adidas yang sebenarnya untuk MEN dan Reebok. Haha! Aku sampai beli kaos dari section MEN (yang sebenarnya nonsense, baju olahraga aja dikasih gender) soalnya yang Women tuh biasanya mengikuti lekuk tubuh, terus lengannya kalau angkat tangan underarm nya kemana-mana. Berhubung nggak percaya diri, jadi pakai yang cutting nya lurus aja dan sleeve nya kaya t-shirt normal dari section Men. Sayangnya, sports bra dan legging aku juga itu sudah ukuran terbesar yang brand masing-masing punya, jadi kalau ukuran kamu di atas aku, jujur aku nggak tau bisa cari sportswear di mana :(

Sekian cerita aku kali ini. Akan ada lanjutannya kok setelah ini!

3 comments

  1. Adani! Aku saranin pakai baju adidas karena mereka run big (suka males pake sportswear yg ketat meretats) dan anehnya di toko suka gak ada ukuran L/XL. Ukuranku 18 dan muat pakai adidas L. Ketemunya di mana? Di bazar diskon MAP, gede semua! At least M/L ada kok!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa sekarang udah pake legging Adidas. Tapi pertama aku mulai nggak ada yang muat. Stock nya dikit kali ya karena dipikir gak ada yg beli. Makasih Raiii nanti kalo ada diskon MAP aku liat2x dehh hehe

      Delete
    2. Eh kalau baju kayanya blm ketemu yang aku suka modelnya deh jadi belum coba-cobain lagii Adidas x) Nanti aku liat lagii dehh

      Delete

Copyright © Adani Nurimanina
Design by Fearne