Traveling and Flying Long Haul Flight (First Trimester) Part 1

Monday, 16 October 2017

Di kehamilanku yang pertama ini aku sudah melakukan 2 perjalanan, dan keduanya perjalanan lintas benua, hehe. Berhubung aku tau banget kalau ibu-ibu hamil muda senang baca informasi dan pengalaman seperti ini, jadi kali ini aku mau tulis pengalamanku.

Pertama aku pergi ke Melbourne, Australia selama 6 hari. Waktu itu aku nggak tau aku hamil, tapi hitungannya kira-kira perjalananku itu saat usia kehamilan 5-6 minggu. Kurang lebih 1 minggu sebelum berangkat aku mulai mengalami mual dari pagi sampai tengah malam kadang gak bisa tidur, dan fatigue yang bikin lemessssss banget setiap hari. Selain itu gejala yang aku rasakan: nggak bisa lama di mobil karena mual, dan kalau lagi mual lampu mesti dalam keadaan remang-remang/gelap soalnya lampu terang jadi salah satu trigger yang bikin tambah mual, tidak lupa tender breasts, setiap buka bra kerasa sakit. Aku nggak ada pikiran aku hamil jadi sangkain ini karena kista. Karena mual, makan jadi susah dan sedikit-sedikit. Serba salah deh rasanya.

Akhirnya waktu jalan-jalan pun tiba, sungguh excited tapi sepanjang perjalanan di pesawat mual tiada henti, terutama saat take off dan landing. Sekitar 6,5 jam Jakarta - Melbourne nggak makan sama sekali karena nyium bau nya aja bikin mual, bahkan kalau Panca makan aku mesti merem karena liat makanan aja, you guessed it, mual. Aku nggak nonton film/nyalain layar entertainment selama di pesawat karena bikin pusing. Karena saat itu nggak tau kalau lagi hamil, jadi nggak memastikan kalau aku stay hydrated, dan sama sekali nggak berdiri untuk ke toilet/sekedar gerak-gerak untuk memastikan peredaran darah lancar. Alhamdulillah nggak terjadi apa-apa dan lega banget saat sampai Melbourne.





Ternyata Melbourne lebih dingin dari perkiraan, ditambah angin dan hujan. Untung last minute sebelum berangkat aku memutuskan bawa coat, yang ujungnya dipakai hampir setiap hari selama di sana. Airbnb tempat kita menginap nyaman banget, dan sebrang halte tram (sangat membantu), dekat kemana-mana tinggal jalan kaki. Selama di Melbourne, tetap mual, terutama di pagi hari, makan tetap susah, ditambah udara dingin. Aku di sana pakai celana jeans karena saat itu belum sadar pakai celana jeans trigger nausea (untuk aku, nggak semua ibu kaya begini). Panca khawatir tapi dia juga nggak kepikiran aku hamil. Melbourne kan kota nya santai dan nggak begitu besar, jadi aku jalan kaki juga nggak se capek biasanya. Udara juga bersih napas gak berat kaya di Jakarta.




Kalau follow Instagram aku, kalian tau aku pergi ke Mt Buller untuk day trip, mumpung lagi salju. Aku sewa coach yang tempat penjemputan nya itu di Federation Square, jalan kaki sekitar 2 menit dari Airbnb (alhamdulillah) dan berangkat nya itu jam 5.30 pagi, sekitar 4 jam perjalanan. Tentu saja aku mual terus, ditambah perjalanannya itu banyak nanjak dan saat sudah dekat gunung jalanannya kelok-kelok. Di bus aku maksa tidur supaya nggak terasa. Saat sampai di Mt Buller, rasanya udah hampir muntah, udah jalan ke toilet tapi terus nggak jadi.

Di Mt Buller hari itu turun salju dengan angin yang kencengggg banget (menurutku). Di mana-mana fresh snow lumayan dalam, sampai banyak kursi, meja, dll di village nya yang terkubur salju. Dingin nya parah! Kalau saat itu aku tau aku hamil pasti aku udah panik. Panca masih ribut dan ribet ngajak foto sana sini di saat cuaca tuh nggak kondusif karena angin kenceng banget, salju tebel, jadinya aku sempet bete deh sama dia. Hahaha. Udah gitu tujuan utamaku ke Mt Buller kan dog sledding, di mana aku ter expose dengan banyak anjing  yang spend a lot of their time outdoor di cuaca yang sangat dingin. Jarak antara tempat parkir bus/tempat shuttle ke village dan tempat dog sledding ini 1km dengan arah yang berbeda. Saat berangkat untungnya masih ada taksi yang mau antar, padahal kondisi jalan udah gak friendly dan licin dan pas udah dekat tempat dog sledding itu salju nya belum dibersihin dari jalan utama. Lumayan ngeri. Nah..... untuk kembali ke area utama (tempat parkir/shuttle bus) dari tempat dog sledding ini kita jalan kaki. Sama sekali nggak ada orang! Kanan kiri kita lihat banyak mobil yang tertutup salju. Untungnya kita sewa waterproof boots yang suitable untuk jalan di salju, kalau nggak pasti udah kepleset dan kedinginan karena basah. Function over fashion, people! Semoga anakku tangguh deh soalnya ibunya pas hamil ada-ada aja, hahaha. Untungnya selesai dog sledding cuaca membaik dan agak terang meskipun tetap mendung.





Ke "ada-ada aja" selanjutnya adalah kita naik charlift untuk lihat pemandangan. Asli ya naik ski chairlift itu serem banget buat yang takut ketinggian. Hanya ada pegangan di depan aja tapi kalo apes dan kepleset, ya kelar lah jatuh. Waktu naik chairlift ini salju turun lagi dan dinginnya aku bener-bener nggak kuat. Ya ampun untungnya nggak kenapa-kenapa kehamilanku T_T Karena lumayan ekstrim secara Jakarta adem aja ngga pernah, apalagi dingin. Naik charlift bolak balik totalnya 30-40 menit dan tinggiiiiii banget. Saat itu aku memutuskan kalau snowboarding dan ski tidak cocok untuk aku karena naik charlift aja takut banget!

Pulang dari Mt Buller dari sana jam 4 sore, sampai di Federation Square kalau nggak salah jam 8-8.30 malam. Nggak perlu kasihtau lagi kalau aku mual selama di perjalanan. Besoknya pesawat kembali ke Jakarta dan masihhhh mual, sama aja pengalamannya seperti waktu berangkat. Nggak makan sama sekali, nggak nonton film dan nyalain layar, maksa tidur aja terus. Usia kehamilanku kira-kira 6 minggu.

Aku pulang tanggal 22 Agustus dan tanggal 28 Agustus aku ke dokter kandungan dan baru deh ketahuan kalau aku hamil! Jadi semua gejala yang aku rasakan itu umum ya untuk ibu hamil.

Jadi menurutku, yang bikin "nggak nyaman" jalan-jalan di saat sangat early in the pregnancy adalah menjalani gejalanya, terutama mual. Kalau kamu merasa gejalamu bisa kamu tahan dan nggak mempengaruhi, dan tentu saja dengan restu dari dokter (kehamilanmu low risk, kondisi ibu dan janin sehat), nggak apa-apa banget kok jalan-jalan. Perlu dicatat setiap kehamilan itu beda-beda ya. Untukku yang paling ngaruh itu di pesawat nggak nyaman banget, tapi selama di Melbourne meskipun mual dan susah makan aku tetap senang dan bersyukur. Bersyukur bisa jalan-jalan berdua suami, dari bangun tidur sampai tidur lagi berdua, eksplor kota baru untuk kita. Soalnya kalau di Jakarta dari pagi sampai sore kan Panca ngantor. Kalau soal ketakutan akan keguguran saat traveling di trimester pertama akan aku bahas di post selanjutnya sekalian cerita pengalaman traveling ke negara yang lebih jauh lagi!

Much love,
x

Post a Comment

Copyright © Adani Nurimanina
Design by Fearne