Traveling and Flying Ultra Long Haul Flight (First Trimester) Part 2

Monday, 20 November 2017

Di perjalanan kali ini, berbeda dari perjalanan yang sebelumnya karena sekarang kita tau kalau aku lagi hamil muda. Saat kita discover kalau aku hamil, langsung tanya sama dokter kandungan ku waktu itu (sekarang sudah ganti), aman nggak aku terbang jauh saat UK relatif sangat muda? Beliau jawab iya. Karena beliau dokter senior beliau udah gak treat pasien sehat (hamil kan sehat ya, gak sakit) jadi aku di refer ke dokter lain. 1 minggu sebelum berangkat tanya lagi sama dokter satunya, kata beliau juga aman. Dokter yang kedua ini punya pendapat tentang hasil cek darah aku yang aku ragukan, akhirnya aku pindah rumah sakit dan pindah dokter, tanya lagi aman gak aku terbang? Jawabannya iya. Semua 3 dokter bilang aman! Tentu saja setiap kehamilan berbeda, dan alhamdulillah kondisi aku dan janin saat itu sehat dan layak untuk jalan-jalan.



Akhirnya aku banyak browsing mengenai pengalaman orang yang traveling di trimester pertama. Wisdom orang tua disini banyak yang bilang bahaya terbang saat hamil muda, nanti aja kalau mau jalan-jalan pas trimester kedua. 'Kepercayaan' itu cukup bikin aku was-was makanya aku baca sebanyak-banyaknya pengalaman orang. Macem-macem deh, ada yang bilang dia kerja bolak balik lintas negara aman. Ada juga orang Indonesia yang baru sampai di Eropa 2 hari terus keguguran. Pada akhirnya ya ikuti insting aja dan berbekal pendapat 3 orang dokter yang semuanya yakin gak apa-apa, sama sekali dokter-dokter ini gak ada yang bikin aku khawatir. Sampai pas mau berangkat aku tanya ada obat-obatan yang perlu aku bawa gak untuk jaga-jaga, kata beliau "Ya kalau sehat ngapain bawa obat" hehe.

Sebenarnya kenapa sih lebih 'nyaman' terbang di trimester kedua?

1. Karena trimester pertama ibu hamil mengalami symptom yang bisa bikin traveling gak nyaman, misalnya mual-mual dan muntah. Udah ngerasain waktu terbang ke Australia, dan emang iya gak enak hahaha. Untungnya pas ultra long haul flight ini symptom itu sudah mereda.
2. CMIIW, 10-25% kehamilan berakhir pada keguguran. Kebanyakan keguguran terjadi pada 13 minggu pertama. Penyebab umum dari keguguran adalah kelainan kromosom, di antara penyebab lainnya. Disarankan traveling di trimester kedua karena JIKA terjadi sesuatu (yang kemungkinannya lebih besar saat hamil muda), ibu hamil akan merasa lebih tenang dan nyaman berada di lingkungan yang familiar. Lagi di luar negeri lalu terjadi sesuatu, jauh dari keluarga, rumah sakit dan dokter yang familiar, pasti menambah stress buat ibu hamil.

Apakah naik pesawat saat trimester pertama menambah resiko keguguran? Nah ya ada yang bilang iya ada yang nggak. Kalau dari 3 dokter berbeda yang aku tanyakan yang aku tangkap adalah "Sama sekali gak masalah".  Again, setiap kehamilan berbeda. Kalau kehamilan seorang perempuan tergolong high risk pregnancy, mungkin nggak akan diizinin traveling sama dokternya, tapi bukan berarti pesawat itu bahaya untuk semua ibu hamil.

Setelah banyak baca, akhirnya aku memutuskan untuk berserah ya tentu saja aku berharap gak ada apa-apa, tapi apapun jalannya yang penting terbaik untuk aku dan janin. What's meant to be will be. Sekali lagi, ibu hamil itu orang sehat, bukan orang sakit! Ada komentar orang yang bukan doktermu yang negatif, hempaskan saja hehe, apalagi yang bikin kamu merasa bersalah. Tentu saja berguna untuk jaga diri, kondisi dan kesehatan, aku yakin kita semua gak ada yang ingin menyakiti diri sendiri apalagi janin.

Apa saja yang aku lakukan di pesawat?

1. Pakai pakaian yang nyaman! Perjalananku waktu itu 20 jam++, tentu saja kenyamanan itu penting dan utama. Aku tanya sama dokter ada pakaian khusus yang harus aku pakai gak untuk mencegah DVT (google aja ya) katanya nggak perlu. Kalau aku baca di luar negeri banyak yang pakai compression stockings dan flight socks, tergantung maunya masing-masing aja ya.
2. Minta aisle seat (PENTING! Early check in aja kalau bisa) dan jangan terlalu dekat ekor pesawat. Biasanya ekor pesawat itu dapur dan bau makanan nya bikin mual. Landing dan take off lebih terasa juga kalau di belakang.
3. Duduk di aisle seat berguna karena ibu hamil harus banyak gerak, dan ibu hamil frekuensi ke toilet nya bisa lebih sering. Posisi duduk dalam waktu lama itu menghambat peredaran darah, dan ibu hamil memiliki resiko DVT lebih tinggi. Agak awkward emang berdiri di tengah perjalanan untuk sekedar lurusin kaki terus stretching gerak gerak, tapi penting. Sambil duduk juga boleh gerakin pergelangan kaki sebisa mungkin. Tapi bagusnya emang setiap berapa lama berdiri aja jalan-jalan.
4. BANYAK MINUM! Kalau lagi di pesawat kita suka menghindari minum soalnya mulut nggak enak atau males bolak balik ke toilet. Untuk ibu hamil penting untuk stay hydrated. Sedikit-sedikit aja minumnya tapi selalu sedia minum kalau habis minta lagi ke pramugari.
5. Sedia cemilan. Untuk yang mengalami mual-mual membantu banget punya cemilan jadi nggak mengandalkan makan berat yang langsung bikin kenyang, karena kenyang bisa trigger mual, perut kosong juga trigger mual. Waktu berangkat itu backpack suami isinya cemilan semua, dan bener ya bermanfaat banget haha.

Setelah perjalanan Jakarta-Singapore, Singapore-Milan, Milan-Venice, alhamdulillah aku nggak mengalami banyak discomfort. Waktu berangkat mual memang sudah mereda, sudah bisa makan di pesawat meskipun nggak banyak, bisa nyalain layar dan nonton film meskipun kadang mual dan harus matiin. Jalan-jalan santai aja nggak diburu-buru dan ambisius. Oh iya, apapun yang terjadi aku nggak boleh angkat koper sama suami. Turun dari kereta pun nggak boleh angkat, turun dari subway juga nggak boleh, meskipun cuma koper yang kecil. Tapi untuk yang lain? Kita santai aja. Kalau aku capek ya pulang. Mau ke toilet ya pulang dulu (agak sulit cari toilet umum terus aku juga orangnya mesti bersih banget kalau nggak nggak bisa ke toilet).





Challenge nya di sana? Makanan. Siapa sangka aku doyan makan makanan Italia di Jakarta tapi di Italia ternyata nggak doyan? Hahaha. Harus hati-hati banyak pantangan. Nggak bisa nyobain bistecca a la fiorentina karena dimasak rare, nggak bisa makan tiramisu juga karena yang authentic pakai raw egg. Yang bisa di makan aku nggak doyan. Pasta di sana lain sama di Jakarta dan nggak sesuai seleraku. Pengen makan buah tapi sepiring aja bisa Rp150.000??? Jadi merasa sayang dan nggak makan buah. Pagi bisa minum fresh orange juice dan roti. Bisa lah makan siang tergantung selera, pizza di sana enak enak. Tapi lama-lama eneg dan makanannya itu-itu aja, ke restoran liat menu nggak ada yang menarik. Senang waktu di Roma sama Milan karena ada makanan internasional. Ada makanan Jepang jadi bisa makan nasi. Bahagiaaaa banget.

Jalan-jalan 15 hari di 4 kota di Italia alhamdulillah dijalani dengan happy. Dengarkan aja apa kata tubuhku. Jadi cerita untuk anakku kalau waktu diperut aja dia udah bisa jalan-jalan, kalah Ibunya. Semoga nanti bisa ajak kakak jalan-jalan ke tempat-tempat yang lebih seru.

Waktu pulang, yang aku lakukan di pesawat juga sama saja. Alhamdulillah tidak ada tantangan yang berarti. Semuanya ikuti feeling aja, dan suami yang sangat mengerti. Meskipun kadang dia bilang pengen jalan-jalan pengen jalan-jalan, akhirnya kita kompromi ya aku tunggu di Airbnb dan dia jalan-jalan. No hard feelings, aku bisa istirahat, dia juga bisa menghabiskan waktu lebih banyak jalan-jalan, kan udah jauh-jauh ke Italia, masa dia mau aku suruh nemenin aku di kamar kalau aku lagi pengen istirahat. Ada kejadian aku harus ke UGD di Roma, tapi nanti ceritanya habis ini ya.

Jadi kalau ada yang lagi hamil muda tapi sebelumnya sudah keburu beli tiket dan merencanakan perjalanan, saranku:
1. Konsultasi dengan dokter, evaluasi kondisimu, pada akhirnya keputusan tetap ditanganmu
2. Kalau memutuskan bepergian, berserah! Banyak bersyukur dan jalani dengan bahagia. Kalau ini adalah kehamilan pertama, bersyukur bisa jalan-jalan berdua dengan suami, karena untuk waktu yang lama setelah punya anak mungkin sulit untuk berduaan
3. Pilih-pilih komentar dan saran dari orang lain yang bukan doktermu yang kamu dengarkan.
4. Banyak riset dan baca pengalaman ibu hamil lainnya, jadi bisa mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan.

Much love,
x

2 comments

Copyright © Adani Nurimanina
Design by Fearne