Harus ke IGD Saat di Roma!

Sunday, 17 December 2017

Nah ini dia.

Aku nggak tau cerita ini akan menarik untuk orang apa nggak, yang jelas aku akan menceritakan apa yang terjadi dengan jujur dan selengkap yang kuingat. Kalaupun nggak ada yang baca, I can look back to this and keep this memory here.



Jadi salah satu gejala yang aku rasakan saat trimester 1 adalah konstipasi, justru selama ini di trimester 2 pencernaan lebih lancar. Seperti yang sudah aku ceritakan, usia kehamilan 9 minggu aku ke Italia 15 hari. Aku sadar betul resiko ini itu saat trimester 1, jadi kalau mulai capek aku istirahat dan jalan-jalannya nggak ambisius. Pokoknya tetap happy tapi juga mindful di saat yang bersamaan. Nggak mau terlalu khawatir tapi tetap harus jaga diri. Saat di Firenze transportasi umum agak sulit jadi suka naik taksi, ternyata di sana nyetirnya ugal-ugalan parah, sampai aku sempat mikir "Kalau ibu hamil gak boleh naik roller coaster, mestinya ada peringatan untuk yang mau naik taksi di Italia" hahaha. Untungnya jarak antar tempat nggak jauh, mual sedikit terus nggak kenapa-napa. Nah ini sempat bikin khawatir.

Aku juga sudah cerita kalau aku nggak cocok sama makanan di Italia. Makanku nggak jelas banget, nggak ada serat, nggak ada kuah-kuahan, buah cuma minum jus jeruk segar aja hampir setiap pagi. Apalagi kalau lagi jalan-jalan gitu, pasti kurang minum, soalnya repot kalau harus bolak-balik ke toilet. Alhasil... jadi trigger konstipasi.

Suatu pagi di Roma, I went to the bathroom to go and do the number 2 setelah beberapa hari nggak ke belakang. Aku memang ngejan agak kuat saat itu karena konstipasi, nah setelah beres, aku berdiri lalu melihat darah segar mengalirrrr di paha. WOW PANIK! Langsung gemeteran. Aku mencoba wipe sana sini, masih ada darahnya lagi dan lagi. Nggak yakin itu darah dari mana, yang jelas memang aku mengejan agak kuat. Keluar toilet duduk di kasur. Suami ikutan panik tapi sok cool. Gemeteran akhirnya nelpon Mama dan minta tolong telponin dokter kandungan langganan Mama atau susternya (aku nggak ke beliau lagi sekarang). Sudah lah nangis nggak terkontrol, "Aku mau pulang aja ke Jakarta", langsung mikir kalau memang iya jika terjadi sesuatu pasti pengennya di lingkungan yang familiar, padahal juga belum tau ini kenapa. Mama tenang banget di telpon padahal aku tau Mama juga panik. Akhirnya aku memutuskan ke rumah sakit.

Untungnya Airbnb ku dekat banget sama Pantheon, dan di Pantheon ada pangkalan taksi. Akhirnya aku message host Airbnb "Need to know where's the nearest maternity hospital, I need to check my pregnancy urgent", sambil Google juga rumah sakit sekitar sana. Di dalam taksi nangis aja sambil berusaha menenangkan diri, Mama juga bolak balik nelpon. Aku sadar saat itu gimana sayangnya aku sama janin padahal baru tau hamil selama 2 minggu, betul-betul takut sekali terjadi apa-apa, khawatir aku melakukan kesalahan, padahal sebenarnya perasaan-perasaan seperti ini nggak membantu siapa-siapa juga. Sama sekali nggak kebayang sistem kesehatan di Italia kayak gimana, sebelumnya belum pernah harus ke rumah sakit saat bepergian, apalagi Italia bukan English speaking country, makin bingung kan tuh.

Rumah sakitnya dekat dengan tempat aku menginap. Kalo nggak salah namanya Fatebenefratelli hospital, jadi ini rumah sakit umum tapi banyak sekali ibu hamil yang kesana, sampai banyak pasien yang ditolak karena ruang melahirkan nya sering penuh. Namanya rumah sakit umum, masuk kesitu wow rame, banyak loket pendaftaran tapi bingung mana kita orang asing. Akhirnya suami inisiatif masuk ke klinik kebidanan/kandungannya yang terlihat sepi banget untuk bertanya, kita langsung diarahkan ke IGD. Jadi IGD nya terbagi dua, untuk pasien umum (kecelakaan, dll) tapi juga ada semacam "IGD" kandungan, aku juga bingung nggak tau itu sebenernya IGD apa bukan. Setelah itu ada staf yang bisa bahasa Inggris yang mengarahkan kita untuk mendaftar (nah ini sih pasti tempat daftar untuk ke IGD, soalnya lokasi dekat pintu masuk IGD dan di dalam rumah sakit ada lagi tempat mendaftar yang rame banget). Asli, staf di sana amat sangat membantu dan lugas, padahal kita nggak bisa bahasa mereka sama sekali. Mbak yang di pendaftaran meminta aku menceritakan kejadian, aku menceritakan sambil nangis, terus dia bilang "Aw don't cry! After the examination then you can cry" sambil usap aku juga dan mencoba menenangkan. Aku betul-betul merasa diperhatikan dengan tulus, padahal pasien di sana nggak berhenti datang, mereka sibuk sekali dan aku yakin capek, tapi nggak ada yang "palsu" dan semuanya berempati, bersyukur banget datang ke rumah sakit ini.

Dari situ aku dibawa lagi sama petugas dan disuruh duduk di ruang tunggu katanya nanti dipanggil. Tunggunya lumayan lama, hampir 1 jam, karena banyak ibu hamil yang antri datang dan pergi. Nah ini yang aku bingung, kasusku bisa dibilang darurat ya, ini juga set-up nya kayak IGD, meskipun memang ruangan tertutup bukan IGD terbuka gitu ya. tapi ya banyak yang dipanggil sebelumku itu ibu hamil yang terlihat sehat dan pada mau ultrasound aja.

Akhirnya dipanggil, suami nggak boleh masuk, jadi yang di dalam itu perempuan semua. Ada 2 ruangan ultrasound yang dari luar, terus ada 1 tempat lagi yang ditutup pakai tirai aja, nah aku di situ. Di suruh duduk dulu sama dokternya dan diminta menceritakan lagi, dokternya tenang dan bilang "Sepertinya hemorrhoid deh (alias ambeien)" aku juga sudah mikir kalau kehamilanku baik-baik saja ya pasti hemorrhoid. Akhirnya dia suruh aku buka celana karena mau USG dalam (intravagina). Aku bilang "I'm sorry I'm panicking this is my first pregnancy" dokternya bilang "It's okay of course you're panicked! It doesn't matter if it's your first or your tenth" gitu katanya. Baik banget deh ku pun nggak menyangka padahal negaranya nggak se teratur yang lain gitu loh. Dokter kandungannya sangat gentle dan ada dokter muda 1 orang.

Dokter pas lihat bagian sana langsung bilang "Ini mah hemorrhoid" (ya kayanya saat itu parah juga ya berarti sampai berdarah) terus di USG dan janin nggak kenapa-napa YA ALLAH ALHAMDULILLAH! Aku masih awkward mau lihat layar terus disuruh sama dokter muda nya "Eh lihat itu bayinya lagi gerak-gerak!" dia sambil senyum baik gitu. Aku masih lemes aja nangis juga. Dokternya bilang "Nanti ketika kembali ke negara asal bilang ke dokter kandungannya ya mungkin butuh obat" aku tanya jadi ini nggak kenapa-kenapa kan, dia jawab "Everything's fine with your pregnancy, everything's okay your baby's healthy" dia cuma bilang di sini minum air putih yang banyak aja. Terus pas aku mau keluar aku tanya "So do I need to go to the cashier or?" dia jawab "No no you just go it's ok" WOW GRATIS T_T

Aku lega tapi masih lemes. Butuh beberapa saat untuk menyadari kehamilan nggak kenapa-napa. Ya aku hemorrhoid tapi yang penting nggak ada apa-apa dengan janin. Balik lagi nelpon Mama ngabarin kalau aku nggak apa-apa dan pulang ke Jakarta nya nanti, haha.

Oh iya ada kejadian lucu. Kan aku masuk ruangan scan itu Panca nggak boleh masuk, nah tiba-tiba Panca ngetok pintu aku lupa deh dia mau bilang apa, terus dimarahin deh dia soalnya laki-laki nggak boleh, pokoknya nggak boleh buka pintu. Panca langsung jiper hahaha. Pas aku tanya emang ngapain buka pintu? Dia bilang dia panik takut aku butuh apa-apa di dalam sedangkan nggak bisa komunikasi hahaha. Kasian dimarahin.

Overall pengalamanku ke rumah sakit di Roma ini sangat memuaskan. Tenaga kesehatannya sungguh perhatian dan TULUS, udah gitu nggak bayar. Aku nggak ngerti siapa yang cover biayanya, padahal aku turis kan. Apakah karena IGD jadi dicover ya? Nggak paham juga. Semuanya baik banget sama aku dan bikin aku tenang, padahal di negara yang betul-betul asing, dan mereka tuh pasiennya nggak habis-habis, tapi sama sekali nggak ada yang ketus, lain sama di sini (aku dulu kuliah di bidang kesehatan ya jadi nggak mau menyinggung siapa-siapa, ya kenyataannya begitu). Mungkin di sana tenaga kesehatan mendapat imbalan yang setimpal dengan workload nya ya, sistemnya pastinya jauh lebih rapi dan mereka lebih diperhatikan, pokoknya lebih reliable lah sistemnya (mungkin). Itu aja sih kesanku. Bersyukur nggak ada apa-apa, dan bersyukur pengalaman ini terjadi di Roma dan di rumah sakit itu, kesannya baik dan menyenangkan.

Setelah sadar dengan penuh kalau kehamilannya nggak apa-apa, udah deh jalan-jalan lagi ke Vatikan hari itu. Hahaha.

Sekian cerita kali ini, mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, haha.


Post a Comment

Copyright © Adani Nurimanina
Design by Fearne