Perjalanan Mencari Dokter Obgyn / Kandungan

Sunday, 4 March 2018

Halo teman-teman!
Kenapa aku memutuskan untuk menulis tentang dokter kandungan setelah sekian lama tidak menulis?
Karena menurutku ini adalah topik yang penting bagi setiap ibu hamil / berencana hamil. Dokter kandungan berperan penting dalam setiap kehamilan dan persalinan, terutama bagi ibu-ibu yang merencanakan untuk bersalin di Rumah Sakit. Peranan dokter kandungan begitu besar dan persalinan ini momen yang sangat penting, krusial dalam hidupmu dan hidup bayi, karena itu dibutuhkan banyak pertimbangan dalam memilih "jodoh" dokter kandunganmu. Pengalaman hamil dan bersalin ini adalah bagian yang sangat besar dari hidup kita, we will either cherish it or be traumatized from it.  Kita mungkin bisa melahirkan lagi anak ke-2, ke-3 dan selanjutnya, tapi anak kita hanya akan dilahirkan 1 kali...

Jadi berikut ini lah cerita pencarian dokter kandunganku.



Sebelum aku ditangani oleh dokter kandungan yang sekarang, aku sudah bertemu 2 dokter kandungan lain. 2 dokter kandungan ini praktik di Rumah Sakit yang sama

1. Dokter A

Dokter ini adalah dokter yang menemani ibuku melahirkan 3 anaknya pervaginam. Sangat telaten, sabar, tenang, adem. Sekarang beliau sudah bergelar Profesor dan Konsultan Onkologi. Usia sudah di atas 70 tahun, karena itu beliau sudah nggak "terima" pasien yang berencana melahirkan pervaginam dan kontrol kehamilan sehat/resiko rendah.

Beliau yang menemukan kista dermoid di salah satu ovariumku dan satu bulan kemudian menemukan aku hamil 7 minggu. Saat itu beliau menyarankan antara operasi angkat kista saat usia kehamilan 4-5 bulan atau bersalin melalui proses caesarean supaya sekalian bisa angkat kistanya. Beliau juga langsung suruh aku setelah ini kontrol dengan dokter lain, karena selain adanya kista, kehamilanku sehat. Sepertinya beliau sekarang hanya menerima kasus "berat" atau pasien lama kaya ibuku. Kalo kontrol kehamilan "biasa", ya sok ke dokter lain aja kontrolnya.

Aku keluar ruangan langsung berpikir "Hhmm.. yaudah kayanya aku lahiran caesar deh.." (sedih dan waktu itu belum banyak ilmu, sekarang ini aku menyadari betapa invasive nya opsi yang beliau tawarkan. Kalau aku nggak ganti dokter atau nggak belajar mungkin aku sudah mendengarkan beliau)

Beliau sebenarnya juga nggak ribet, santai nggak larang ini itu. 2 minggu setelah aku ketahuan hamil aku berencana liburan jauh, beliau santai bahkan bilang "Kalau sehat ngapain bawa obat?" saat aku tanya apakah ada obat yang perlu dibawa.

2. Dokter B

Sebelum terbang, aku balik lagi ke RS untuk memastikan semua baik-baik saja, waktu itu masih terngiang-ngiang terus aku ada kista jadi suka khawatir (padahal mah insya Allah gak papa), akhirnya memilih untuk ke dokter kandungan muda di rumah sakit yang sama.

Wow dokternya gaul, rame, dan senang ajak ngobrol. Semua berjalan baik sampai beliau baca hasil lab cek darahku. Ada salah satu yang IgG nya terbaca positif, sebelum ketemu beliau aku sudah cari tahu soal ini (tanpa bermaksud jadi pasien sok tau, I just wanted information, and I am entitled to some), dan positif di sini karena aku sudah vaksin, jadi bukan infeksi baru.

Tapi beliau berpendapat "Yaa pokoknya positif, nggak tau infeksinya dulu (karena vaksin) atau sekarang", kemudian beliau kasih obat.

Aku sudah langsung ragu apakah aku benar-benar butuh obat ini. Sedang menjalani trimester 1, pasti pengennya menghindari obat sebisa mungkin, apalagi obat "keras" gini. Langsung ga sreg, dan ga merasa panik harus minum obat, malah ragu-ragu.

3. dr. Ridwan Sude, SpOG

Sebelum aku ke dokter B, aku sudah tau tentang dr. Ridwan. Aku dapat list dari kakakku isinya dokter kandungan yang "bagus", recommended, dan aku juga sudah browsing di internet dan nama dr. Ridwan beberapa kali muncul. Akhirnya waktu liat nama dr. Ridwan di list kakakku aku langsung tertuju pada beliau dan tidak menggubris pilihan yang lain (mungkin memang jodohnya sama beliau, haha).

Kesan pertamaku sama dr. Ridwan sebenarnya kurang gimana gitu. Aku sendirian nggak sama suami dan saat itu dapatnya slot siang, karena booking nya mepet. Sepertinya hari itu mood beliau kurang bagus, jadi aku nangkepnya beliau dingin, padahal aslinya emang cool gitu sih beliau hehe, hari itu nggak kaya setelah-setelahnya deh pokoknya.

Aku ke sana bawa hasil cek darah dan USG. Tujuan utamanya menanyakan beliau soal obat, dan jawaban beliau
"Gak perlu"
(Tuhkan)
"Malah kalau hasilnya negatif saya akan suruh vaksin setelah melahirkan, benar dong positif"
(nahlo)

Aku juga tanya soal kista, ga ada dari beliau suruh aku operasi, hahaha. Kista aku ukuran 4 cm menurut beliau nggak perlu di apa-apain. Aku cerita soal apakah aku harus melahirkan caesarean supaya sekalian di angkat kista? Beliau bilang nggak, karena pemulihannya jadi lebih lama dan lukanya juga besar (Setelah dipikir-pikir, ogah deh pemulihan lama, aku kan harus nyusuin anakku!). Pokoknya nggak apa-apa dan nanti kistanya nggak kelihatan ketutupan rahim dan janin, tapi intinya aku nggak perlu banyak khawatir.

(Bahkan saat kontrol 32 minggu kemarin, aku mengingatkan beliau kembali aku sebelumnya ada kista, menanyakan kembali aku bisa lahir pervaginam, beliau jawab "Itu kemarin pasien saya kistanya 10,5 cm lahir normal", hehehe)

Saat pertemuan pertama itu juga beliau tanya kapan aku terakhir USG, karena sama dokter A baru 2 minggu sebelumnya, makanya nggak perlu USG sama beliau. (Soalnya USG kan bayar lagi, jadi nangkep ya dia modelnya dokter yang kayak apa)

Meskipun kesan pertamaku kurang sama beliau, tapi aku memutuskan untuk lanjut kontrol sama beliau aja. Dan kontrol selanjutnya beliau udah gak dingin lagi kok, kayanya emang waktu itu moodnya lagi ga bagus, atau kecapekan. Keputusan yang tepat!

Beliau adalah dokter pro normal (Emang ada dokter yang nggak pro normal? Coba ibu-ibu ada yang mau ceritakan pengalamannya? xD), menganut RUM. KMC adalah Rumah Sakit pro ASI, pro IMD, dan menjalankan rawat gabung (rooming in). dr. Ridwan dekat dan kenal dengan orang-orang di dunia gentle birth, open minded, sabar. Malah beliau yang kasihtau aku "Kalau mau melahirkan normal harus sabar..." dr. Ridwan adalah dokter yang ngebelain pasiennya banget. Pokoknya sayang sama beliau <3

Beliau suruh aku yoga bahkan sebelum usia kehamilan 20 minggu (tempatku yoga menganjurkan mulai setelah 20 minggu aja), kata beliau "Nggak ada hubungannya olahraga dengan keguguran" (kecuali untuk kehamilan resiko tinggi yaaa, kalau nggak ada apa-apa ya nggak perlu takut. Orang hamil itu orang sehat!) mendukung pasiennya mengikuti kelas hypnobirthing, mendukung pasiennya belajar dan memberdayakan diri.

Selama ini kalau kontrol aku nggak banyak tanya, karena alhamdulillah kehamilanku berjalan lancar dan banyak ilmu yang aku dapat dari luar.

Beliau juga bisa di WA untuk tanya-tanya / emergency, tapi karena au sadar pasien beliau banyak banget, aku banyak-banyak mikir sebelum WA, kalau nggak penting-penting amat ya nggak perlu (kecuali waktu itu aku nanya kurang penting, beneran nggak sih nggak boleh makan lengkeng? Kata beliau ya nggak benar dong hahaha)

Dr. Ridwan memang lebih cool dan nggak ceriwis kayak dokter B, tapi itu nggak begitu penting, kalau mau ngobrol haha hihi sama temen se-geng aja gak sih? xD

Dokter kandungan yang "cocok" adalah yang se-visi sama kita, memegang prinsip dan filosofi yang cocok dengan kita, bersedia mengusahakan birth plan yang kita ajukan. Rasa percaya juga sangat penting, aku percaya beliau nggak akan menyarankan sesuatu/intervensi kalau aku nggak benar-benar butuh. Kalau sudah se-visi dan filosofi cocok, birth plan insya Allah disetujui. Kebetulan aku menemukan "jodoh"ku di dr. Ridwan, hehe... Saat kamu cari dokter kandunganmu, cari yang sesuai dengan rencanamu :)

TIPS kalau ingin kontrol sama dr. Ridwan (penting!)

1. Booking jauh-jauh hari. Dari bulan Januari, kamu sudah bisa booking untuk bulan Februari, jadi sudah bisa booking dari bulan sebelumnya (bukan 30 hari sebelumnya, pokoknya bulan sebelumnya, jadi 1 Januari sudah bisa booking untuk sampai 28 Februari). Lebih baik booking cepat, apalagi kalau mau kontrol hari Sabtu. Jadi janjian sama suami, untuk bulan depan mau kontrol tanggal berapa.

2. Pilih jam paling pagi (kalau dapat!) Supaya dr. Ridwan juga masih segar karena baru datang, nggak lama nungguin orang lain kontrol juga. Ini sebenarnya personal preference ku yah... Terserah sih kembali ke masing-masing hehe.

3. SABAR!!! Jam untuk grup paling pagi tuh jam 8.30-9.30, kalo nggak salah per grup 4 orang (apa 5 orang ya? Kalau mau coba tanya untuk memastikan). Tapi, dr. Ridwan baru datang jam 9.30-10.00 biasanya (berdasarkan pengalamanku). Sabar. Maklumi. Dokter kaya beliau kerja nggak kenal waktu! Siapa tau subuh-subuh baru selesai nungguin persalinan. Insya Allah kita kontrol kehamilan yang sehat-sehat aja kan, jadi sabar aja yaah.... Jajan aja dulu di kafe nya, mahal tapi cemilannya enak-enak hehehe.



Aku memang belum melahirkan, tapi aku yakin dr. Ridwan akan mendukung aku dan bayi. Nanti setelah melahirkan insya Allah akan aku tulis pengalamanku ya, kalau ada waktu! Hehe.

Sekian dari aku, semoga bermanfaat :)

2 comments

  1. I actually have some fans on a facebook page related to this stuff. obgyn open now near me

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Copyright © Adani Nurimanina
Design by Fearne