Apa Sih Rasanya Melahirkan?

Thursday, 10 May 2018



Seumur hidup kita, kita sudah sering dipaparkan sama tontonan atau cerita perempuan yang melahirkan dengan histeris, sakit, teriak-teriak, cakar sana-sini...

Perjuangan perempuan melahirkan anaknya identik dengan "sakit", kita selalu dibilangin melahirkan itu bertaruh nyawa, sungguh pengorbanan dan perjuangan yang besar, seakan-akan semakin kelihatan sakitnya semakin afdol perjuangan. Sehingga persalinan menjadi hal yang "menakutkan" bagi sebagian perempuan, karena selalu itu yang diperlihatkan...

Padahal, persalinan adalah proses yang sangat natural. Tubuh kita sudah didesain dengan sempurna untuk menjalani tugas yang besar ini. Sejak sebelum hamil, aku sudah fascinated dengan proses persalinan dan suka nonton video-video bersalin yang berjalan dengan damai, jauh dari drama yang kita lihat di televisi. Setelah melahirkan Khalil, aku menyadari betapa KUAT nya perempuan, dan betapa kuatnya aku, dan bikin aku merasa kalau nggak ada yang nggak bisa aku lakukan.

Btw, untuk cerita persalinan Khalil, silahkan liat di Instagram-ku yaaa...

Sampai sekarang ini, masih ada yang suka bilang ke aku "Kata sodara gue gak mungkin lah melahirkan bisa tenang!" atau saat aku bilang aku berencana melahirkan pervagina "Lo bayangin aja 24 jam kontraksi!" "Nggak mungkin bisa nyaman melahirkan tuh sakit banget" daaaan lain-lain. Tentu saja apa yang kita lihat di televisi itu diambil dari dunia nyata, MEMANG melahirkan itu rasanya luar biasa. Ibuku juga melahirkan 3 anaknya dengan cakar-cakar suster... bagaimanapun kita melahirkan anak kita doesn't make us more or less of a mom, we're all the same! Tapi, mungkin nggak sih bersalin dengan lebih nyaman, lebih damai, lebih terhubung dengan tubuh kita yang diciptakan untuk itu? Semua gambaran kalau bersalin harus dengan terpampang jelas sakit banget bikin kita berpikir kalau itu satu-satunya cara... sehingga banyak yang jadi takut, padahal it's a very natural process, dan aku sendiri sudah merasakan kalau BISA lebih nyaman, lebih tenang, tanpa cengkram, cakarin suami. Tapi memang harus diupayakan, harus diingatkan lagi kalau tubuh kita mampu dan gambaran menakutkan itu harus diganti dengan gambaran persalinan yang lebih tenang, damai dan seperti apapun yang kita impikan. Ini kalau mau, kalau nggak juga nggak papa banget... silahkan upayakan persalinan seperti apapun yang kamu inginkan. Kita melatih pikiran kita untuk mempercayai persalinan yang kita impikan itu MUNGKIN, dan pengalaman orang lain yang tidak sesuai adalah hanya pengalaman mereka dan nggak mesti terjadi juga dengan kita. Ini penting, untuk nggak membiarkan pengalaman orang lain yang "negatif" meracuni pikiran kita. Because it all starts there.

Sejak hamil, aku mengupayakan persalinan pervagina yang nyaman, mindful dan aware. Aku ingin tahu segala kemungkinan medis, aku ingin tahu sebab akibat dari apa yang mungkin terjadi, apa yang mungkin dilakukan dokter, kondisi apa yang harus aku cegah, aku perhatikan, dll. Kalau sudah lama baca blog aku, sudah tahu apa aja yang aku lakukan... dan beberapa hal lain yang belum aku tulis.

Hasilnya? Apa sih rasanya melahirkan?

Luar biasa, itu rasanya. Jujur sejujur-jujurnya, bukan sakit yang aku rasakan, tapi seperti mules keram yang awalnya ringan, semakin lama semakin kuat. Rasanya aku berhasil menghapus kata "sakit" dari pikiranku, karena saat hamil juga aku sudah suka bilang "Aku nggak khawatir sih sama nyeri sakit" karena bukan itu yang aku "takutkan". Alhamdulillah. Yang aku ucapkan jadi kenyataan. Sensasinya pun berubah, saat pembukaan kecil 1-5, rasanya ya kaya mules keram aja, setelah pembukaan 7, rasanya seperti mau ngejan yang sulit sekali untuk ditahan. Setelah bukaan 7 ini yang lumayan menantang untuk aku... dan di sini aku menyadari kalau upayaku belum cukup, yang aku lakukan selama 9 bulan kemarin rasanya kurang, kurang bersiap, harusnya bisa lebih baik dari ini, TAPI aku tidak menyesal, jadikan pelajaran untuk kehamilan adiknya Khalil, kalau harus lebih baik dari ini...

Adanya doula Mbak Mila sangat membantu, energi dia dan aku nyambung banget di hari itu, aku merasakan sekali "keberadaan" Mbak Mila untuk aku. Yang aku lakukan sepanjang persalinan bisa dibilang minimal dibanding ibu-ibu lain, di gymball, duduk di atas kasur disangga peanut ball, mengikuti gerakan tubuh (ideomotor response), mengatur napas sebisanya, ngobrol biasa disela-sela kontraksi, di hip squeeze sama Mbak Mila, sedikit jalan dan sedikit standing lunge. Aku juga selalu jaga untuk senyum, selama sebisa aku, setiap aku ingat aku senyum. Aku nggak mau komplain sama sekali karena Alhamdulillah banget diantara kontraksi itu Khalil kasih ruang untuk napas.. Karena aku tau banyak yang kontraksi terus2xan saat sudah mau bukaan lengkap, tapi disela-sela kontraksi aku bener-bener bisa santai biasa aja.

Saat bukaan besar beberapa kali aku bilang ke Mbak Mila "Mbak sulit banget untuk nahan mau ngejan" tapi Mbak Mila selalu pandu napas, dan akupun suka kelepasan ikutin refleks tubuhku untuk ngejan sebelum waktunya, tapi Mbak Mila nggak pernah nyerah dan semangatin aku. Saat IMD pun aku bilang "Mbak aku ngerasa kok aku buyar yah pas sensasi ngejan itu datang..." (intinya aku merasa aku kurang sesuai dengan yang aku harapkan) tapi Mbak Mila bilang "Mbak Adani tuh udah tenang banget loh.. Mbak nggak tau ajaa" Semoga aja bener ya Mbak Mila bukan biar aku seneng aja hahaha <3

Oh iya, jadi ketakutanku adalah ketuban pecah dini, ini yang terus-terusan aku afirmasi dan alhamdulillah jadi realita... ketubanku pecah saat udah bukaan 9-bukaan lengkap. Ketubannya jernih kata Mbak Mila (karena aku nggak bisa lihat udah posisi bersalin).

Mengejan ternyata nggak gampang... aku berkali-kali ngejan salah terus, kurang panjang atau ditahan di mulut. Ini akibat nggak nyempetin senam hamil, jadi belajarnya di tempat. Akhirnya bener juga ngejannya dan pelan-pelan terasa Khalil turun. Bener-bener harus sekuat tenaga, jadi jaga tenaga yah saat persalinan. Alhamdulillah aku masih dijaga Allah saat itu padahal sepanjang persalinan aku nggak makan, dan masih kuat untuk ngejan terus terusan. Harus makan dan banyak minum yaaah ibu ibu! Kalau minum aku masih terus.. dan saat mau pipis pun jalan ke kamar mandi nggak di pispot.

Yang aku ingat hanya saat Khalil crowning dan mulai keluar, itu rasanya panas sekali "di bawah sana" (ini TMI, tapi aku ingin menggambarkan dengan sesungguhnya hahaha) Saat Khalil meluncur keluar itu rasanya nggak bisa diungkapin, saat itu aku ngeblank dan tiba-tiba dia sudah keluar nangis aja pokoknya. Suami betul-betul menyaksikan dari kepala Khalil keluar sampai dia meluncur keluar, kalau aku nggak liat huhu. Aku nangis seada-adanya, suami nangis, aku nggak liat Mbak Mila juga nangis apa nggak, terus Khalil dilap sebentar dan langsung ditaro di dadaku. Saat itu rasanya kaya "wow aneh banget yang tadinya di perut gue sekarang sudah di sini!" Panca pun lupa nggak ngadzanin... sampai aku bilangin "Aa gak mau adzan?" Hahaha. Di sini capek semua hilang, segar banget. Karena dokter sambil jahit-jahit di bawah sana, aku ngobrol tenang, sambil juga kasih tau dokter kalo kerasa "Dok kerasa dok" terus ditambahin lagi anastesi lokal nya deh.

Khalil dengan pintarnya cari puting dan nangkap... Aku bahagia sekali lihat Khalil yang barusan aja melihat dunia dia sangat aware. Langsung lapar dan nyot nyot meskipun aku juga nggak tau kolostrumku udah langsung keluar saat itu atau dia nyot nyot aja, tapi sungguh rasanya priceless, jadi satu-satunya orang yang bisa memenuhi kebutuhan dia, yang dia cari saat lapar dan untuk mendapatkan kenyamanan. Rasanya kayak terlahir kembali. Nggak ada momen dihidupku yang bisa aku bandingkan rasanya dengan momen saat itu.

Ini pengalamanku.

Kalau aku nggak belajar, aku nggak yoga, aku nggak ketemu Mbak Mila, Mbak Ochan, Bu Lanny, nggak baca buku, nggak baca sana sini, nggak rajin gym ball, mungkin persalinanku nggak akan berjalan seperti ini... Meskipun terbilang panjang, mungkin aku nggak akan tau di gym ball jauh lebih nyaman, mungkin aku nggak akan bisa jalan keliling di pembukaan 9, mungkin aku nggak tau caranya atur napas agar lebih tenang, mungkin aku nggak senyum, mungkin aku udah teriak-teriak, cakar sana sini, jambak suami, kesakitan dan mungkin minta epidural/ILA. Banyak sekali yang aku pelajari selama kehamilan ada hasilnya saat bersalin, dan selamanya aku berterima kasih sama orang-orang yang sangat dermawan membagikan ilmunya di mana-mana. Bersyukur juga tinggal di Jakarta di mana cari ilmu sangat mudah.

Yang lucu, saat bersalin bisa dibilang aku nggak ngerasa sakit. Tapi pas mau rendem jahitan (sitz bath), mesti ditemenin suami gemeteran takut sendiri... hahaha.

Mungkin ini aja dari aku... kalau ada yang mau ditanyakan silahkan yaaa.

Much love!


Post a Comment

Copyright © Adani Nurimanina
Design by Fearne